I Made Budiasa, Anggota DPRD Gianyar Sambut Kunjungan Wamenparekraf Irene Umar di Taksu Bali Gallery Peliatan
25 Juni 2025
Made budiasa dprd ubud
Gianyar | Budiasaubud.com - 26 Juni 2025 — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gianyar dari Daerah Pemilihan (Dapil) Ubud, I Made Budiasa, M.Si., dari Fraksi PDI Perjuangan, menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) RI, Irene Umar, di Taksu Bali Gallery, Peliatan, Ubud.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting dalam membahas kondisi terkini pelaku ekonomi kreatif di Bali, khususnya di Ubud sebagai salah satu pusat seni dan budaya di Indonesia. Kehadiran Wamenparekraf Irine Umar menunjukkan perhatian serius pemerintah pusat terhadap sektor seni rupa, kriya, dan patung yang saat ini sedang menghadapi tantangan besar pasca-pandemi.
“Kami menyambut baik kedatangan Wamen Irine. Ini menandakan bahwa pemerintah pusat benar-benar melihat langsung denyut nadi para seniman dan pengrajin di Ubud. Ini adalah bentuk dukungan nyata,” ujar Made Budiasa saat diwawancara usai pertemuan.
Ekonomi Kreatif Bali: Berjalan, Namun Belum Bangkit Sepenuhnya
Dalam dialog yang berlangsung hangat dan penuh keakraban, Wamenparekraf Irene mengamati bahwa meski roda ekonomi kreatif di Bali sudah mulai berputar kembali, namun geliatnya belum sepenuhnya pulih seperti masa sebelum pandemi.
“Perkembangan seni patung, kerajinan tangan, dan industri kreatif lainnya masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari pasar yang belum stabil, tenaga kerja yang mulai berpindah profesi, hingga persoalan akses terhadap pembiayaan,” ungkap Irene.
Banyak perajin kini kesulitan mendapatkan pekerja terampil seperti pematung dan pengrajin kayu, karena sebagian besar tenaga muda lebih memilih pekerjaan yang dianggap instan atau cepat menghasilkan uang, seperti buruh bangunan atau pekerjaan informal lainnya.
I Made Budiasa: Perlu Dukungan Konkret Bagi Pengrajin Lokal
Menanggapi hal itu, Made Budiasa menegaskan bahwa pemerintah, baik pusat maupun daerah, perlu memberikan kemudahan nyata bagi para pengrajin dan pelaku UMKM seni.
“Kami berharap ada solusi konkret seperti pembukaan akses pembiayaan, pemberian insentif, serta kemudahan distribusi hasil karya para seniman. Kalau ada bantuan promosi dan pasar yang luas, pasti geliat ekonomi kreatif akan hidup kembali,” katanya.
Ia juga mendorong adanya fasilitas promosi dan kemitraan yang lebih luas, baik secara domestik maupun internasional. Hal ini menjadi penting karena penjualan patung dan karya seni saat ini belum sekuat sebelumnya, terutama di pasar ekspor yang kini lebih selektif dan kompetitif.
Ribuan Patung, Minim Pembeli
Salah satu fakta yang mencuat dalam pertemuan tersebut adalah adanya ribuan stok patung di berbagai galeri dan sanggar seni di Ubud yang masih menumpuk. Koleksi tersebut terdiri dari berbagai ukuran, dari kecil hingga besar, namun pembelinya belum sebanyak era keemasan pariwisata Bali.
“Kalau dulu bisa laku beberapa patung per hari, sekarang ya tidak menentu. Ada yang laku, ada juga yang menunggu lama. Ini tantangan bagi kami,” ujar seorang pelaku usaha seni patung yang hadir dalam diskusi.
Meski demikian, ekspor masih berjalan, walau volumenya tidak seperti masa sebelum pandemi.
Harapan Baru dari Pemerintah Pusat
Wamenparekraf Irene Umar menutup kunjungan dengan harapan besar bahwa Bali, khususnya Gianyar, akan tetap menjadi pusat ekonomi kreatif Indonesia yang kuat dan berkelanjutan. Ia juga berkomitmen akan membawa hasil kunjungan ini sebagai masukan strategis bagi kebijakan nasional, khususnya dalam menyusun peta jalan pemulihan ekonomi kreatif daerah.
“Kami akan terus dorong kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan seniman lokal agar kreativitas tidak berhenti dan tetap menjadi kekuatan ekonomi bangsa,” ujar Irene.
Kunjungan ini pun diapresiasi oleh para pengrajin dan pelaku seni di Ubud, yang berharap agar pertemuan tersebut tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi segera berbuah kebijakan yang menyentuh kebutuhan riil mereka. (TimNewsyess).
Berita Lainnya :
27 Juni 2026
17 Juni 2026
07 Juni 2026
06 Juni 2026
01 Juni 2026
27 Mei 2026
Turn Up is a boutique and wholly Australian owned company that provides solutions and legal services that are trusted, relevant, consistent and professional Best and Recommended Visa Consultant in Bali Indonesia.
The Director runs the day to day management of Turn Up which requires them to hold a very high and solid understanding coupled with many years of experience to run the business and operational objectives needed to ensure the greatest potential for success for all of Bali expat’s legal needs Best and Recommended Visa Consultant in Bali Indonesia.
With this experience and understanding in mind, they have built a strong team with broad and very focused skill sets to accomplish the best possible outcomes for expatriates, living, working, investing, building a business or even marrying in Bali Best and Recommended Visa Consultant in Bali Indonesia.
We have created a structure that provides solid communication through every step of the process. We provide the time together with a strong plan and a focused team that works towards goals and deadlines to maximize your satisfaction and success.
We give you the Best Trusted Solution and Service by providing operational excellence, service leadership and customer confidentiality.
Turn Up demonstrates our alliance with all of our existing clients by our consistently progressive commitment to customer service. This customer support infrastructure enables us to offer our clients complete satisfaction and excellence of service, which exceeds client expectation while maintaining a cost pro-active attitude of care within our own organization Best and Recommended Visa Consultant in Bali Indonesia.
At Turn Up we ensure that our clients are kept up to date and informed on the progress and of any regulation changes at all times. We respond to each individual’s needs from application to completion.